Sabtu, 13 Januari 2018
ETOS PEMUDA
Muda, merupakan kata yang membius dan bisa dikapitalisasi. Baik untuk kepentingan ekonomi, politik, pembangunan, dan bahkan pergenitan. Lihat saja, istilah muda selalu disandingkan dengan banyak hal sebagai daya tarik: Es kelapa muda, sate kambing muda, darah muda, pengusaha muda, politisi muda, mamah-mamah muda hingga istri muda dan suami muda, yang lebih dikenal dengan sebutan grandong, eh, brondong. Ada apa dengan kata muda. Pidato Bung Karno yang cetar badai itu masih menggema, "beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia".
Kata muda setidaknya mengandung beberapa hal. Pertama, segar. Segar itu selalu mengandung kebaruan, Tidak layu. Sayur yang segar itu sayur yang baru, begitu juga daging. Tetapi sayur dan daging habis disantap, dan selesai perkara. Lalu bagaimana dengan manusia? Ia terus beranjak tua. Umur tak bisa dilawan. Dengan demikian arti segar bagi manusia adalah seberapa bisa Ia terus menerus membuat sesuatu yang baru bagi dirinya. Inilah yang dalam kekinian disebut inovasi. Tempatnya ada dalam gagasan. Jasad manusia kian menua, tetapi gagasan tidak. Pemuda adalah sosok yang dari hari ke hari dengan gagasan yang baru. Biar tetap segar seperti sayur yang dipetik seketika. Jika anak muda hadir dengan gagasan yang itu-itu saja, Ia bagai sisa makanan tak habis dan yang terus menerus dihangatkan, mungkin masih enak tapi sudah tak lagi renyah. Yang kedua, gairah: Kaum muda tak cukup hanya dengan gagasan. Gagasan tanpa pelaksanaan tak ubah bagai khayalan semata. Perlu semangat juang untuk mengimplementasikannya. Seperti kata Karl Marx, orang- orang bicara tentang dunia, aku ingin mengubah dunia. Untuk itu, yang ketiga: pemuda harus memiliki keberanian, untuk bisa mendobrak kemapanan. Pemuda harusnya bisa diandalkan, sebab masih memiliki tenaga yang besar. Ia makhluk yang energik.
Pemuda juga harus imajinatif, berani memiliki cita-cita yang bahkan belum terpikirkan. Peristiwa sumpah pemuda adalah cerita yang relevan mengenai hal tersebut. Di jaman itu, 1928 bukankah cita-cita bertumpah darah, tanah air, dan bahasa satu itu masih merupakan imajinasi? Menurut Sutardji, teks sumpah pemuda adalah puisi yang paling inspiratif, menggerakan berbagai Jong dari banyak daerah untuk manunggal, yang endingnya adalah kemerdekaan, 1945.
Wah, wah, wah, berarti muda bukan semata usia, ia adalah etos. Itu sebabnya kita sering mendengar, ada orang tua yang berjiwa muda. Juga sebaliknya, pemuda yang berjiwa tua. Seperti sebuah iklan rokok, menua itu nasib, tetapi dewasa adalah pilihan. Dewasa itulah etos pemuda: segar, bergairah, berani, enerjik, dan imajinatif.
Penulis : Azuel_Kaylani
Korektor : Mas_Iyan
Editor : Iqbal_Juliansyah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusManatap.. lanjutkan
BalasHapusManatap.. lanjutkan
BalasHapusMantap.. lanjutkan
BalasHapusAjiib
BalasHapus