_Teruntuk Penyusup dalam Selimut_ 👉
*DARAH ITU*
"Aku menyebut ini sebagai perbincangan tentang dunia, walaupun tampak di permukaan seperti perbincangan tentang agama. Ini adalah soal politik dan kekuasaan, meski terlihat olehmu seperti perbaikan dan kesejahteraan. Perbincangan ini adalah tentang slogan-slogan yg memukau dan asumsi murahan yg diterapkan sejak zaman dahulu sbg bentuk pembodohan. Dipercayai kaum elite-nya dan dipegang teguh oleh senior-seniornya. Lalu slogan itu dimanfaatkan oleh orang-orang cerdik untuk memaklumatkan diri sebagai pemimpin massa."
"Sungguh, mereka hanya sedang mengincar kekuasaan, bukan kedamaian sesama. Mereka memburu singgasana dunia, kebebasan dan kesewenangan, bukan perubahan dan perbaikan. Dan tujuan mereka pada dasarnya adalah dunia, bukan agama. Meski tampaknya mereka menerapkan teori _sami'na wa atho'na_. Mereka sengaja memelintir Kalam Akademik dgn tujuan tertentu di hatinya, dan menjadikan buruh akademik sebagai alat untuk melegitimasi kehendak hati mereka. Pada akhirnya, mereka berhasil menguasai seluruh kesempatan."
"Mereka tak pernah gundah gulana. Jika terjadi penghancuran, mereka tidak pula berduka. Untuk sampai pada kekuasaan dan kursi kedaulatan, mereka pun terkadang tak segan-segan menumpahkan darah saudara sesama. Mereka juga tega menjadikan jenazah saudara seimannya, sebagai jembatan menuju kuasa."
"Kau yg membaca, akan tahu bahwa aku sedang menuliskan sesuatu yg sungguh dekat dgn apa yg kamu ketahui, tanpa aku harus banyak lagi memberi rambu-rambu. Betapa banyak sloganisme yg dapat kutunjukan, karena kini sedang berkumandang, bahkan terus mengiang. Slogan-slogan itu misalnya berbunyi: 'Wahai STAIS, Kembalilah!', 'Demokrasi adalah solusi!', 'Demokrasi, Mesti Demokrasi!'"
"Kau mungkin bingung menentukan apakah slogan-slogan itu bagian dari pergerakan atau perubahan. Namun kau dgn segera akan menemukan jawaban dari orang-orang yg menyiarkannya, bahwa pergerakan dan perubahan adalah dua wajah dari satu koin yg sama. Tak terpisahkan! Mereka mengatakan bahwa STAIS adalah Nasionalis dan Agamis, mushaf dan pedang, dan seterusnya."
Demikianlah kondisi politik STAIS berpuluh tahun silam, ''Kebenaran yg hilang dan sisi kelam praktik politik dan kekuasaan''. Sungguh sangat disayangkan.
Kapan akan merdeka dan menjadi Bhakti Jaya?
_Oleh:_ *Esy Putra Semester III*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar