Rabu, 12 September 2018

Melebarkan Pengembangan Kaderisasi PK. PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Deklarasi Rayon Abdullah Dan Kholilurrahman

Prosesi Pengambilan Sumpah Jabatan oleh Ketua Umum PC. PMII Kab. Bangkalan
Bangkalan- Bertempat di Gedung PKB, Rabu (12/09/2018) Deklarasi Rayon (P) Abdullah Dan Kholilurrahman Oleh
PK PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Di gelar.

Sahabat Nur Kholis Hidayatullah Selaku Ketua Pelaksana Menyampaikan Dalam Sambutan nya Bahwa PMII Bukan Partai Politik Maupun Sayap Partai Politik.

"PMII ini Bukan Partai Politik ataupun Sayap Partai Politik, PMII adalah Sebuah Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Warna biru yang Ada Di Bendera PMII Bukan Warna Partai Demokrat Warna Kuning Bukan Warna Partai Berkarya Maupun Golkar, Akan tetapi Warna BIRU sebagaimana dasar perisai sebelah bawah berarti ketinggian ilmu pengetahuan, budi pekerti dan taqwa.
Warna KUNING sebagaimana perisai sebelah atas berarti identitas mahasiswa yang menjadi sifat dasar pergerakan, lambang kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan" (Kata Sahabat Kholis Sapaan Akrab nya)

Iqbal Juliansyah Selaku Ketua Komisariat menyampaikan Dalam Sambutan nya Bahwa deklarasi nya rayon Abdullah Dan Kholilurrahman Ini merupakan Suatu tahapan yang baru dalam pengembangan Kaderisasi PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN.

"Ada nya Rayon Abdullah Dan Kholilurrahman Ini merupakan Suatu tahapan yang baru dalam pengembangan Kaderisasi di Komisariat PMII STAI SYAICHONA MOH CHOLIL BANGKALAN dan saya berharap kepada para Pengurus rayon Ini bisa mencetak Kader yang mempunyai Intelektual yang tidak Kalah dengan para pengurus rayon yang lebih dulu berdiri ditingkat Kabupaten Bangkalan maupun ditingkat Provinsi" (Tutur sahabat Iqbal)

Sementara itu dalam Sambutan para ketua Rayon yang diwakili oleh Ketua Rayon Kholilurrahman (sahabat Moh. Romli) menegaskan Bahwa kedua Rayon Ini Siap berkontribusi nyama terhadap Komisariat STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Maupun Cabang.

"Rayon Abdullah Dan Kholilurrahman Siap berkontribusi nyata untuk Komisariat maupun cabang dan Kami siap bersaing dalam Mengasah Ke-intelektual Bukan hanya bersaing Ketika berdemo"

Dalam hal Sakral Ini Turut hadir para Pengurus Cabang PMII BANGKALAN seperti: Ketua Umum PC PMII BANGKALAN, Ketua KOPRI PC PMII BANGKALAN, Sekretaris Umum, Ketua 1 Bid. Kaderisasi, Ketua Komisariat Se-Bangkalan, Ketua Rayon Dan para senior PMII STAI SYAICHONA MOH CHOLIL BANGKALAN.


Penulis : Kang Hadie

Selasa, 04 September 2018

MUSYAWARAH MUFAKAT, RAYON ABDULLAH




BANGKALAN - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan melaksanakan kaderisasi organisasi di tingkat kepengurusan dan dipastikan akan mewarnai dinamika di ranah pergerakan mahasiswa Bangkalan. Pada hari Minggu (12/08/18) telah dilaksanakan Musyawarah Mufakat dalam rangka Pembentukan Rayon, Prodi Ekonomi Syariah untuk masa pengabdian / Masa Juang 2018/2019. Bertempat di Sekretariat PC PMII Bangkalan, Jl. Perum Griya Abadi Blok AH No. 25. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan khidmat, dimulai  sekitar pukul 08.00 WIB pagi dengan dihadiri pengurus komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan dan calon pengurus Rayon.

Para Pengurus Rayon Abdullah, Prodi Ekonomi Syariah Masa Juang 2018 / 2019

Setelah disepakati oleh para pengurus dan anggota, maka terbentuklah Rayon yang diberi nama Rayon Abdullah sebagai Rayon perdana di pengurusan Komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan serta  pengurus Rayon Abdullah masa juang 2018/2019. Adapun mengenai nama-nama pengurus Rayon Abdullah sebegaimana berikut: Fakhruddin Faruk sebagai Ketua Rayon, Nurholis Hidayatulloh, sebagai Wakil Ketua Rayon, Sulhan Ahmad sebagai Sekretaris Rayon, Lilis Murdianah sebagai Wakil Sekretaris Rayon, Siti Rukmana sebagai Bendahara Rayon dan Farhan Abdillah sebagai Wakil Bendahara Rayon.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Sahabat Baijuri Alwi selaku Ketua Umum dan Sahabati Fakhriyatun Nisak selaku Ketua KOPRI PC PMII Bangkalan. Tak hanya itu, Ketua Komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Sahabat Iqbal Juliansyah turut hadir dan memberi sugesti terhadap para calon pengurus Rayon. Sahabat Iqbal Juliansyah menyampaikan bahwapengurus yang dilantik betul-betul menjalankan dedikasi yang telah diberikan, bukan hanya sekadar nitip nama atau eksis dalam kepengurusannya. Dan, tidak patah arang dalam berorganisasi serta membangun solidaritas yang tinggi sesuai dengan kultur yang ada di PMII.


(Sul Ahmed)



Minggu, 02 September 2018

SESAT ITU BAIK

(Bukan Khotbah Jumat)

Oleh : Wong Ndeso*


     Tak cuma kotor, sesat pun menjadi sesuatu yang baik. Bahkan kalau mau jujur, sesat itu adalah justifikasi Tuhan pada manusia, "Sesungguhnya kalian semua sesat, kecuali mereka yang Kuberi petunjuk.." Kita tak pernah tahu menahu, apakah kita masih sesat, atau sudah ada dalam naungan petunjuk.
       Dalam keberagamaan, kesesatan hanya disematkan pada mereka yang sudah mulai berjalan, sudah mencoba berpikir, serta berani berijtihad. Dan sesesat-sesatnya orang semacam itu, mereka masih lebih baik dibanding orang yang tak mau berpikir, tak mau berijtihad, karena takut disebut sesat.
      Jika kau mengutarakan pikiranmu, tentang apa pun, lalu dinilai sesat oleh sesamamu, sungguh itu tak apa-apa, tak perlu marah. Kalau perlu katakan padanya, "Kamu kemana aja? Baru tahu ya saya sesat?" Sebab pada akhirnya, kamu dinilai sesat, itu karena pikiranmu tersesat dari pikirannya. Artinya, ini hanya urusan perbedaan penilaian, sudut pandang, bukan karena dia dibisiki Tuhan untuk menghakimimu. Bukan!
     Sesat itu baik. Sesekali, keluarlah dari rumahmu. Pakai kendaraan. Sesatkan dirimu pada sebuah jalan. Aku yakin, kau akan menemukan jalan yang selama ini tak pernah kau injak, kau akan melihat orang atau bangunan yang belum terjamah matamu. Banyak hal baru yang kau dapat dalam ketersesatan. Tapi pada akhirnya, kau akan menemukan jalan yang kau jadikan tujuan.
      Di Indonesia ini, seekor kecoa suka sekali menyesatkan kerbau, hanya karena kerbau itu tak mau jadi kecoa. Ada kambing yang mengejek harimau, hanya karena suara si harimau tak 'mengembik' seperti kambing. Ada tongo yang kerap melecehkan kutu, sebab kutu tak mau diajak diam di batang kelamin seperti dirinya.

*




Jumat, 17 Agustus 2018

Catatan Persimpangan Jalan

Berhati-hatilah ketika melangkah jangan terlalu sering menganggukkan lehermu karna tak jarang banyak yang mengelabui apalagi hanya ingin membulli lalu dipangku kembali hanya krna mereka mempunyai niat yg pastinya menguntungkan diri sendiri.
Terlalu banyak typologi yang tak jarang akan kita jumpai dan tak banyak pula yang bisa kita sadari bahwa mereka hanya ingin mendoktrinisasi agar termanut dan mengangguk serta mengikuti segala bentuk yang kau anggap itu motivasi tapi nyatanya hanyalah Ilusi belaka.
Percayalah saat ini banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi seseorang yang dihormati dan disegani. Mulai dari yang suci hingga yang selalu di Diskriminasi. Tak banyak orang yang kau bisa baca fikirannya, dampaknya dan keuntungnnya.
Teruslah !!!
Melangkah, berorientasi, termotivasilah, dan sadarlah bahwa saat ini begitu banyak tetangga yang saling menyikut, tak prlu kau jumpai diluar didalam saja sudah sering kamu lewatkan, berlomba-lomba menjadi yang terbaik, berlomba-lomba untuk menjadi patokan publik, berlomba-lomba supaya bisa menjadi titik pusat yang menarik, bahkan agar terlihat sang pengendali yang sempurna.
Mereka memilah memilih tanpa memandang yang berada dipinggiran yang membutuhkan uluran tangannya yang begitu berniatan untuk menjadi seorang insan terbaik pada masanya, ketika tak sesuai, ketika tak sebaris, ketika tak sepeham dengan mereka maka kau akan dilempar begitu saja. Apakah mereka telah terkalahkan oleh keegoisannya?? sehingga mereka enggan untuk  memperdulikan mereka yang brada dipersimpangn jalan.
Menjadi pemberontak tak harus mengacak menjadi seorang penjahat, tak harus berbuat cacat. Menjadi seorang ustadpun tak harus selalu mengeluarkan zakat, tak harus selalu berdakwah. Tetapi menjadilah manusia yang membrikan manfaat tanpa harus membrikan hal yang sesat yang kemudian hanya dibtuhkan oleh wktu sesaat, karena memanusiakan manusia lebih indah dari segalanya.
Berproseslah, niatkanlah, kobarkanlah semangatmu, dan ragamu untuk mengisi waktu yang kosong dan ketika terisi lalu pergi dan jangan lupa untuk selalu memberikan asupan gizi utk adik-adikmu nanti.
Salam pergerakn💪💪
Keletihan kejenuhan dan kemarahan akan bercampur ktika diremehkn apalagi untuk dipandang, ditoleh saja itu krna kebetulan saja.
I'am slow🙂 aku berbuat aku melangkah smuanya hanya karna ingin menciptkn sejarah bahwa di negeri ini tak semuanya buta apalagi tertipu daya.

#RakyatJancukers

Penulis : Zaii Arifin

Rabu, 15 Agustus 2018

ZONA NYAMAN (PW)

ZONA NYAMAN



Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi, seperti orang-orang berdasi yang gila materi"

Sepenggal lirik dari @fourtwntymusic yang berjudul zona nyaman. Easy listening dan sarat akan makna.

Setelah didengar dan diresapi, ada benarnya juga. Sebenarnya apa tujuan hidup kita? lahir di dunia, sekolah, bekerja, menikah, berkeluarga, tua, dan kemudian mati? hidup tak sesederhana itu, dan tak sesulit yang kalian pikirkan.

Apakah saudara yakin semua yang anda kerjakan benar-benar sudah keluar dari zona nyaman anda? apakah saudara yakin, disetiap senin pagi diri anda tak dihantui dengan yang namanya apel pagi dan tuntutan laporan disetiap akhir bulan? apakah hidup anda semembosankan itu? yg nantinya menjadi seorang pegawai, dan menikmati masa tua dengan gaji pensiunan yang tidak seberapa?

Saya tidak mendikte kehidupan saudara yg itu-itu saja. Saya juga sama seperti anda, yg terjebak dalam repetisi yg sama setiap harinya.

Masih terlintas tulisan Seno Gumira Ajidarma tentang mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yg hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Saya tidak meminta saudara, untuk resign dari pekerjaan anda yg itu-itu saja, saya hanya meminta anda untuk berfikir atas apa yg anda kerjakan selama ini. untuk apa? untuk sekedar makan dan bekerja?

Pernah dengar kata Buya Hamka? "Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja."

Lantas sudah berapa tahun anda hidup di dunia ini? apakah masih bersembunyi dalam lingkup zona nyamanmu tanpa mencoba peduli dgn sekitar? sebenarnya apa yang anda cari?

Untuk kalian yg telah keluar dari zona nyamanmu, berbangalah bisa berdiri diatas kaki sendiri, setidaknya kau telah menjadi tuan atas dirimu sendiri.

@Kader_Biasa-Biasa_Saja

Jumat, 01 Juni 2018

Beginikah Cara PK PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Memperingati Nuzulul Qur'an

Suasana Silaturrahim & Buka Bersama PK. PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL Bangkalan

Bangkalan- PK PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN pada tahun ini menggelar peringatan Nuzulul Qur'an Ramadhan 1439 H dan Juga Bertepatan Pada Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2018.

Peringatan Momen Bersejarah dalam Islam ini di gelar dengan berbagai Kegiatan mulai dari Khotmil Qur'an, Orasi Pergerakan yang di isi oleh Majlis Pembina Cabang (Sahabat Drs. H. Ahmad Jausi, M.A) dan juga Buka Bersama yang Berlokasi di Sekretariat PK PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL Bangkalan. 

Ketua Komisariat PK PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Sahabat Iqbal juliansyah Berharap Dalam Sambutannya Semoga dengan Kegiatan ini Bisa Menambah Semangatnya Para Kader Maupun Anggota Dalam Berproses di PMII.

"Saya berharap dengan adanya kegiatan pada kali ini semua kader maupun anggota PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN lebih semangat lagi dalam berproses di PMII dan bisa lebih akrab dengan alumni-alumni PMII STAIS Maupun dengan Komisariat lain-nya" (Kata Iqbal Juliansyah)

Adapun Peringatan Nuzulul Qur'an ini yang mengambil Tema "Spirit Nuzulul Qur'an Untuk Meneguhkan Ghiroh Pergerakan Dalam Bingkai Silaturrahim" di hadiri Sekitar 95 orang.

Foto Bersama
IKA PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL Bangkalan
Mereka Terdiri Dari Masyarakat, Tamu Undangan Seperti Pengurus Cabang PMII kabupaten Bangkalan, Komisariat STAI AL-HAMIDIYAH,  STIT MIFTAHUL ULUM, STKIP PGRI BANGKALAN, STAI DARUL HIKMAH dan Alumni, Kader, Anggota PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN.

Ketua Pelaksana Sahabat Nurholis Hidayatullah dalam Sambutannya Menjelaskan Bahwa Tujuan Utama Dalam Rangkaian Kegiatan Ini Adalah Terbentuknya IKA PMII STAI SYAICHONA MOH.CHOLIL BANGKALAN.
Khotmil Qur'an
"Tujuan Dalam Kegiatan ini Bukan hanya saja memperingati Nuzulul Qur'an akan Tetapi Juga ingin terbentuknya IKA PMII STAI SYAICHONA MOH.CHOLIL BANGKALAN." (tutur Sahabat Holis Sapaan Akrab nya).

Penulis Kang Hadie

Kamis, 05 April 2018

Tanamkan Nilai Spritual Ke-Islaman PMII STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan gelar Ziarah ke Makam Mbah Cholil


Bangkalan- untuk memperkuat nilai nilai ke-Islaman Anggota dan Kader PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN berziarah ke makam tokoh pejuang islam Syaichona Moh. Cholil di Martajasah Bangkalan 

Ketua Komisariat PK PMII STAI SYAICHONA BANGKALAN, Sahabat Iqbal Juliansyah Mengatakan agenda Ziarah ke makam mbah cholil ini merupakan suatu ikhtiar untuk menanamkan jiwa spiritual ke islaman kepada anggota dan kader kader PMII STAI SYAICHONA MOH CHOLIL BANGKALAN 

"tujuan pada agenda ziarah kali ini adalah agar kader maupun anggota tidak melupakan bahwa pada dasar nya kader PMII merupakan salah satu kader Nahdhatul Ulama' yang berfaham Aswaja. Ya, salah satunya dengan berziarah ke ulama " tuturnya.

Turut hadir pula pada agenda ziarah ini kali ini Ketua Komisariat periode 2016-2017 Sahabat Moh. Faisol, Dia berpesan Terhadap Kader PMII STAI Syaichona Moh. Cholil harus menjadi garda terdepan dalam meneruskan perjuangan Mbah Cholil di madura khususnya di Bangkalan

"Kader maupun Anggota PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN harus melanjutkan perjuangan mbah Cholil yang merupakan tokoh pejuang Islam di Indonesia Khusus nya di Bangkalan dan Mbah Cholil juga merupakan pemberi restu cikal bakal berdirinya Organisasi Nadhatul Ulama' di indonesia" tutur Sahabat Moh. Faisol.

Penulis : Kang Hadi

Senin, 15 Januari 2018

Dinamika Etika dalam Jabatan

Rasulullah yang mulia tak pernah dapat pujian dalam al-Quran karena kualitas ibadahnya kepada Tuhan, padahal kita tahu bagaimana beliau mengisi malam dalam sujud. Rasulullah yang suci tak pernah mendapat pujian dari Tuhan karena kualitas kedermawanannya, padahal kita tahu derita beliau untuk mengenyangkan perut fuqara-masakin begitu agung. Rasulullah Saw. pun tak pernah dapat pujian dari Allahu Ta’ala karena suksesnya beliau membangun Kota Madinah, padahal kita tahu bagaimana keadilan dan kesejahteraan rakyat telah beliau tancapkan dengan gilang-gemilang di hati semua warga Madinah. Tapi, dalam al-Quran kita bisa membaca, “Sungguh engkau Muhammad benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” Tuhan terpukau akan budi-pekerti, dan mengabadikannya dalam Kitab Suci. Inilah kekuatan Muhammad ibn Abdillah. Etika atau akhlak atau moral. Pada pribadi nabi, selain etika, seolah-seolah (sekali lagi “seolah-olah”) tak penting dan kecil peranannya di depan Tuhan. Bahkan Rasulullah Saw. pun diutus ke muka bumi ini tiada lain hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak (li utammimma makarimal akhlak). Siapa pun kita, secara pribadi, tentu tak akan mampu meniru 100% akhlak Rasulullah. Bukan karena apa, tapi karena pengorbanan untuk bisa demikian sungguh berat dan sukar untuk dijalani “manusia-biasa”. Tapi secara sosial, secara profesional, wajib hukumnya bagi kita untuk terus berusaha meniru dan meneladani Muhammad Saw.


Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu bagaimana cara membangun etika. Ya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang pandai membangun insfratruktur kota, bukan yang sukses menciptakan gerakan mengaji bagi warganya, bukan yang sukses menggratiskan pendidikan bagi warganya. Bangsa besar adalah bangsa yang tahu akhlak. Boleh insfratruktur hebat, jalan hotmik licin, rumah sakit megah, mesjid agung mentereng; tapi kalau akhlak warganya rusak, itu semua akan menjadi fasilitas yang dipakai keburukan. Boleh warganya pandai mengaji al-Quran secara fasih, tapi kalau etika warganya bobrok maka kehidupan sosial di sana akan borok-borok. Boleh pendidikan gratis sampai kuliah s-1 kalau mampu, tapi kalau etika para siswanya acak-adut maka akan melanggengkan korupsi makin menjadi. Itu sebabnya, bangsa yang besar selalu memiliki para pemimpin yang kuat secara moral. 

Berat memang, seorang pemimpin harus memberikan teladan, padahal kualitas teladan justru kita baca berada dalam pribadi “nabi”. Presiden Jerman, Christian Wuff mundur dari jabatan hanya karena ketahuan “meminjam” uang rakyat tanpa ijin sebatas untuk cicilan rumahnya. Tanpa menunggu putusan bersalah pengadilan, ia langsung mundur, tanpa paksaan. Perdana Mentri Yunani, George Papandreou yang mengundurkan diri karena “malu” tak becus menyelesaikan krisis yang berkepanjangan. Atau, Mentri Tenaga Kerja Korea Selatan yang mengundurkan diri karena ketahuan bermain golf saat terjadi pemogokan buruh. Atau, Jepang yang punya tradisi harakiri, dalam rentang lima tahun pernah terjadi enam kali berganti kepemimpinan, hanya karena pemimpin mereka malu pada rakyat. Dan masih banyak contoh lain kita bisa deretkan tentang ini. Mereka semua, “berani” mundur dari jabatan karena “jujur” secara etika. Kejujuran tanpa keberanian adalah buta etika, dan etika adalah roh dari kepemimpinan. 


By: Azuell (Wong Ndeso)

Sabtu, 13 Januari 2018

ETOS PEMUDA

Muda, merupakan kata yang membius dan bisa dikapitalisasi. Baik untuk kepentingan ekonomi, politik, pembangunan, dan bahkan pergenitan. Lihat saja, istilah muda selalu disandingkan dengan banyak hal sebagai daya tarik: Es kelapa muda, sate kambing muda, darah muda, pengusaha muda, politisi muda, mamah-mamah muda hingga istri muda dan suami muda, yang lebih dikenal dengan sebutan grandong, eh, brondong. Ada apa dengan kata muda. Pidato Bung Karno yang cetar badai itu masih menggema, "beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia".
Kata muda setidaknya mengandung beberapa hal. Pertama, segar. Segar itu selalu mengandung kebaruan, Tidak layu. Sayur yang segar itu sayur yang baru, begitu juga daging. Tetapi sayur dan daging habis disantap, dan selesai perkara. Lalu bagaimana dengan manusia? Ia terus beranjak tua. Umur tak bisa dilawan. Dengan demikian arti segar bagi manusia adalah seberapa bisa Ia terus menerus membuat sesuatu yang baru bagi dirinya. Inilah yang dalam kekinian disebut inovasi. Tempatnya ada dalam gagasan. Jasad manusia kian menua, tetapi gagasan tidak. Pemuda adalah sosok yang dari hari ke hari dengan gagasan yang baru. Biar tetap segar seperti sayur yang dipetik seketika. Jika anak muda hadir dengan gagasan yang itu-itu saja, Ia bagai sisa makanan tak habis dan yang terus menerus dihangatkan, mungkin masih enak tapi sudah tak lagi renyah. Yang kedua, gairah: Kaum muda tak cukup hanya dengan gagasan. Gagasan tanpa pelaksanaan tak ubah bagai khayalan semata. Perlu semangat juang untuk mengimplementasikannya. Seperti kata Karl Marx, orang- orang bicara tentang dunia, aku ingin mengubah dunia. Untuk itu, yang ketiga: pemuda harus memiliki keberanian, untuk bisa mendobrak kemapanan. Pemuda harusnya bisa diandalkan, sebab masih memiliki tenaga yang besar. Ia makhluk yang energik. Pemuda juga harus imajinatif, berani memiliki cita-cita yang bahkan belum terpikirkan. Peristiwa sumpah pemuda adalah cerita yang relevan mengenai hal tersebut. Di jaman itu, 1928 bukankah cita-cita bertumpah darah, tanah air, dan bahasa satu itu masih merupakan imajinasi? Menurut Sutardji, teks sumpah pemuda adalah puisi yang paling inspiratif, menggerakan berbagai Jong dari banyak daerah untuk manunggal, yang endingnya adalah kemerdekaan, 1945. Wah, wah, wah, berarti muda bukan semata usia, ia adalah etos. Itu sebabnya kita sering mendengar, ada orang tua yang berjiwa muda. Juga sebaliknya, pemuda yang berjiwa tua. Seperti sebuah iklan rokok, menua itu nasib, tetapi dewasa adalah pilihan. Dewasa itulah etos pemuda: segar, bergairah, berani, enerjik, dan imajinatif. Penulis : Azuel_Kaylani Korektor : Mas_Iyan Editor : Iqbal_Juliansyah