Minggu, 31 Maret 2019

SYAIKH ABDUL ADZIM; WALI MASTUR, GURU SYAICHONA CHOLIL

"Siapa yang ziarah dimakamku tapi tidak ziarah ke Syaikh Abdul Adzim, ibarat ziarah ke Mekkah tidak ziarah ke Madinah" Dawuh Syaichona Moh. Cholil bin Abdul Latif.

Kutipan ini adalah satu dari sekian banyak faidah yang disampaikan oleh Lora Muhammad Ismail al-Kholilie didampingi Lora Muhammad Ismail al-Ascholy pada malam Rabu kemaren (27 Maret 2019) di event penutupan M3 Pondok Pesantren Syaichona Cholil tentang adab Syaichona kepada guru-gurunya.

Syaikh Abdul Adzim atau disebut Bhuju' Agung, sebagaimana disampaikan Ra Ismail, adalah ulama kelahiran Makkah yang membawa thariqat Naqsabandiyah pertama kali ke tanah Madura. Beliau adalah guru dari mahaguru ulama Nusantara, yaitu Syaichona Moh. Cholil bin Abdul Latif. Didawuhkan oleh para ulama, bahwa di Madura ada dua wali besar. Pertama, Syaikhona Kholil, sebagaimana masyhur. Kedua, adalah Syaikh Abdul Adzim, dan yang ini mastur (tertutup dari pengetahuan khalayak umum).

Konon ketika Syaikh Abdul Adzim wafat, sambung Ra Ismail, dimana Syaichona Cholil yang mengadusi, mengkafani dan meletakkan janazah beliau di pemakaman, tubuh Syaikh Abdul Adzim ini dipenuhi oleh lafadz jalalah (Allah). Sampai ketika Syaichona hendak mensholati janazah sang Guru, Syaichona mundur dikarenakan takjub dengan lafadz jalalah yg ada di jasad sang Guru.

Makam Syaikh Abdul Adzim terletak sekitar 200 meter sebelum pemakaman Martajasah dari arah Mlajah samping kanan jalan di sebuah pemakaman umum yang dikelilingi tembok. Di sana tertulis di sebuah banner warna merah "KUBURAN ARAB MAKAM SYAIKH ABD. ADZIM AYAH SYAIKH MUD'HAR MEKKAH"
Makam Syaikh Abd. Adzim

salah satu bentuk takdzim Syaichona Cholil kepada Sang Guru, beliau pernah dawuh, "Siapa yang ziarah di makamku tapi tidak ziarah ke Syaikh Abdul Adzim, ibarat ziarah ke Mekkah tidak ziarah ke Madinah."

Penulis : Mufti Shohib, S.H (Ketua Umum PC. PMII Bangkalan Periode 2015-2016)

Kamis, 07 Maret 2019

Secuil Cerita Manuver Kehidupan Kakek Tua

Pada suatu hari, aku berjalan untuk mencari hiburan, ketenangan dan ketentraman. Menyusuri salah satu sudut kota terbesar di Jawa Timur, kota dengan slogan "kota kejam".Aku pun terus berjalan hingga akhirnya tidak sengaja melihat kakek tua termenung sendirian di pinggir jalan.Lantas aku sapa kakek itu, "Kek, perkenalkan nama saya Nanda kek."Sang kakek pun tersenyum dan menjawab, "Oh, iya Nak ada apa?"
Senyuman ceria seorang kakek
Wajah keriput lantaran sudah termakan usia tidaklah menjadi alasan baginya untuk tetap tersenyum dan tak patah arang dalam menghadapi roda kehidupan yang kejam ini."Nanda ingin belajar pada kakek. Nanda ingin tau banyak cerita kehidupan pada kakek" , kataku pada kakek itu. Aku pun mengadu perihal kehidupanku, "Kek, hidup Nanda susah, Nanda sering menangis dengan keadaan tak kuat untuk menerima, sakit di rasa, perih di dada. Nanda tidak kuat kek, tidak kuat."
Nak,Tidak kah kau sadar tentang betapa singkatnya hidup ini. Perjalanan hidupmu tak ada apa-apa nya ketimbang  kakek. Tidak kah kau tau yang menjadi pemangsa juga akan dimangsa.Tidak kah kau tau itu?
Nak, Kakekmu ini juga pernah merasakan bagaimana harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kehidupan yg keras, Hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah.Pun kakek juga pernah merasakan pahitnya dicerca, dimaki, dihina. Dan, percayalah Nak, kakek pun juga pernah menangis, bahkan hampir setiap hari. Lantas, apakah kakek tidak marah pada kehidupan? Tidak. Tidak Nak.Kakek yakin, bahwa itu sebagian dari skenario yg diberikan Tuhan untuk hidupku dan juga pastinya untuk hidupmu. Ini hal tabu Nak. Bagi mereka yang masih berpikiran jangka panjang dan mengedepankan kemaslahatan, maka tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas.


Jadi Nak,Bersabarlah !Ikhlas !Dan, tetaplah berdoa pada Tuhan, Memohon untuk diberikan hati yang lapang, niscaya tidak akan ada masalah yang akan menjadikanmu pecundang dan sampah.



========Penulis: Oom JielKader PMII STAIS Bangkalan (prodi Ekonomi Syariah, semester II)

Rabu, 12 September 2018

Melebarkan Pengembangan Kaderisasi PK. PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Deklarasi Rayon Abdullah Dan Kholilurrahman

Prosesi Pengambilan Sumpah Jabatan oleh Ketua Umum PC. PMII Kab. Bangkalan
Bangkalan- Bertempat di Gedung PKB, Rabu (12/09/2018) Deklarasi Rayon (P) Abdullah Dan Kholilurrahman Oleh
PK PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Di gelar.

Sahabat Nur Kholis Hidayatullah Selaku Ketua Pelaksana Menyampaikan Dalam Sambutan nya Bahwa PMII Bukan Partai Politik Maupun Sayap Partai Politik.

"PMII ini Bukan Partai Politik ataupun Sayap Partai Politik, PMII adalah Sebuah Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Warna biru yang Ada Di Bendera PMII Bukan Warna Partai Demokrat Warna Kuning Bukan Warna Partai Berkarya Maupun Golkar, Akan tetapi Warna BIRU sebagaimana dasar perisai sebelah bawah berarti ketinggian ilmu pengetahuan, budi pekerti dan taqwa.
Warna KUNING sebagaimana perisai sebelah atas berarti identitas mahasiswa yang menjadi sifat dasar pergerakan, lambang kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan" (Kata Sahabat Kholis Sapaan Akrab nya)

Iqbal Juliansyah Selaku Ketua Komisariat menyampaikan Dalam Sambutan nya Bahwa deklarasi nya rayon Abdullah Dan Kholilurrahman Ini merupakan Suatu tahapan yang baru dalam pengembangan Kaderisasi PMII STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN.

"Ada nya Rayon Abdullah Dan Kholilurrahman Ini merupakan Suatu tahapan yang baru dalam pengembangan Kaderisasi di Komisariat PMII STAI SYAICHONA MOH CHOLIL BANGKALAN dan saya berharap kepada para Pengurus rayon Ini bisa mencetak Kader yang mempunyai Intelektual yang tidak Kalah dengan para pengurus rayon yang lebih dulu berdiri ditingkat Kabupaten Bangkalan maupun ditingkat Provinsi" (Tutur sahabat Iqbal)

Sementara itu dalam Sambutan para ketua Rayon yang diwakili oleh Ketua Rayon Kholilurrahman (sahabat Moh. Romli) menegaskan Bahwa kedua Rayon Ini Siap berkontribusi nyama terhadap Komisariat STAI SYAICHONA MOH. CHOLIL BANGKALAN Maupun Cabang.

"Rayon Abdullah Dan Kholilurrahman Siap berkontribusi nyata untuk Komisariat maupun cabang dan Kami siap bersaing dalam Mengasah Ke-intelektual Bukan hanya bersaing Ketika berdemo"

Dalam hal Sakral Ini Turut hadir para Pengurus Cabang PMII BANGKALAN seperti: Ketua Umum PC PMII BANGKALAN, Ketua KOPRI PC PMII BANGKALAN, Sekretaris Umum, Ketua 1 Bid. Kaderisasi, Ketua Komisariat Se-Bangkalan, Ketua Rayon Dan para senior PMII STAI SYAICHONA MOH CHOLIL BANGKALAN.


Penulis : Kang Hadie

Selasa, 04 September 2018

MUSYAWARAH MUFAKAT, RAYON ABDULLAH




BANGKALAN - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan melaksanakan kaderisasi organisasi di tingkat kepengurusan dan dipastikan akan mewarnai dinamika di ranah pergerakan mahasiswa Bangkalan. Pada hari Minggu (12/08/18) telah dilaksanakan Musyawarah Mufakat dalam rangka Pembentukan Rayon, Prodi Ekonomi Syariah untuk masa pengabdian / Masa Juang 2018/2019. Bertempat di Sekretariat PC PMII Bangkalan, Jl. Perum Griya Abadi Blok AH No. 25. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan khidmat, dimulai  sekitar pukul 08.00 WIB pagi dengan dihadiri pengurus komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan dan calon pengurus Rayon.

Para Pengurus Rayon Abdullah, Prodi Ekonomi Syariah Masa Juang 2018 / 2019

Setelah disepakati oleh para pengurus dan anggota, maka terbentuklah Rayon yang diberi nama Rayon Abdullah sebagai Rayon perdana di pengurusan Komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan serta  pengurus Rayon Abdullah masa juang 2018/2019. Adapun mengenai nama-nama pengurus Rayon Abdullah sebegaimana berikut: Fakhruddin Faruk sebagai Ketua Rayon, Nurholis Hidayatulloh, sebagai Wakil Ketua Rayon, Sulhan Ahmad sebagai Sekretaris Rayon, Lilis Murdianah sebagai Wakil Sekretaris Rayon, Siti Rukmana sebagai Bendahara Rayon dan Farhan Abdillah sebagai Wakil Bendahara Rayon.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Sahabat Baijuri Alwi selaku Ketua Umum dan Sahabati Fakhriyatun Nisak selaku Ketua KOPRI PC PMII Bangkalan. Tak hanya itu, Ketua Komisariat STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Sahabat Iqbal Juliansyah turut hadir dan memberi sugesti terhadap para calon pengurus Rayon. Sahabat Iqbal Juliansyah menyampaikan bahwapengurus yang dilantik betul-betul menjalankan dedikasi yang telah diberikan, bukan hanya sekadar nitip nama atau eksis dalam kepengurusannya. Dan, tidak patah arang dalam berorganisasi serta membangun solidaritas yang tinggi sesuai dengan kultur yang ada di PMII.


(Sul Ahmed)



Minggu, 02 September 2018

SESAT ITU BAIK

(Bukan Khotbah Jumat)

Oleh : Wong Ndeso*


     Tak cuma kotor, sesat pun menjadi sesuatu yang baik. Bahkan kalau mau jujur, sesat itu adalah justifikasi Tuhan pada manusia, "Sesungguhnya kalian semua sesat, kecuali mereka yang Kuberi petunjuk.." Kita tak pernah tahu menahu, apakah kita masih sesat, atau sudah ada dalam naungan petunjuk.
       Dalam keberagamaan, kesesatan hanya disematkan pada mereka yang sudah mulai berjalan, sudah mencoba berpikir, serta berani berijtihad. Dan sesesat-sesatnya orang semacam itu, mereka masih lebih baik dibanding orang yang tak mau berpikir, tak mau berijtihad, karena takut disebut sesat.
      Jika kau mengutarakan pikiranmu, tentang apa pun, lalu dinilai sesat oleh sesamamu, sungguh itu tak apa-apa, tak perlu marah. Kalau perlu katakan padanya, "Kamu kemana aja? Baru tahu ya saya sesat?" Sebab pada akhirnya, kamu dinilai sesat, itu karena pikiranmu tersesat dari pikirannya. Artinya, ini hanya urusan perbedaan penilaian, sudut pandang, bukan karena dia dibisiki Tuhan untuk menghakimimu. Bukan!
     Sesat itu baik. Sesekali, keluarlah dari rumahmu. Pakai kendaraan. Sesatkan dirimu pada sebuah jalan. Aku yakin, kau akan menemukan jalan yang selama ini tak pernah kau injak, kau akan melihat orang atau bangunan yang belum terjamah matamu. Banyak hal baru yang kau dapat dalam ketersesatan. Tapi pada akhirnya, kau akan menemukan jalan yang kau jadikan tujuan.
      Di Indonesia ini, seekor kecoa suka sekali menyesatkan kerbau, hanya karena kerbau itu tak mau jadi kecoa. Ada kambing yang mengejek harimau, hanya karena suara si harimau tak 'mengembik' seperti kambing. Ada tongo yang kerap melecehkan kutu, sebab kutu tak mau diajak diam di batang kelamin seperti dirinya.

*




Jumat, 17 Agustus 2018

Catatan Persimpangan Jalan

Berhati-hatilah ketika melangkah jangan terlalu sering menganggukkan lehermu karna tak jarang banyak yang mengelabui apalagi hanya ingin membulli lalu dipangku kembali hanya krna mereka mempunyai niat yg pastinya menguntungkan diri sendiri.
Terlalu banyak typologi yang tak jarang akan kita jumpai dan tak banyak pula yang bisa kita sadari bahwa mereka hanya ingin mendoktrinisasi agar termanut dan mengangguk serta mengikuti segala bentuk yang kau anggap itu motivasi tapi nyatanya hanyalah Ilusi belaka.
Percayalah saat ini banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi seseorang yang dihormati dan disegani. Mulai dari yang suci hingga yang selalu di Diskriminasi. Tak banyak orang yang kau bisa baca fikirannya, dampaknya dan keuntungnnya.
Teruslah !!!
Melangkah, berorientasi, termotivasilah, dan sadarlah bahwa saat ini begitu banyak tetangga yang saling menyikut, tak prlu kau jumpai diluar didalam saja sudah sering kamu lewatkan, berlomba-lomba menjadi yang terbaik, berlomba-lomba untuk menjadi patokan publik, berlomba-lomba supaya bisa menjadi titik pusat yang menarik, bahkan agar terlihat sang pengendali yang sempurna.
Mereka memilah memilih tanpa memandang yang berada dipinggiran yang membutuhkan uluran tangannya yang begitu berniatan untuk menjadi seorang insan terbaik pada masanya, ketika tak sesuai, ketika tak sebaris, ketika tak sepeham dengan mereka maka kau akan dilempar begitu saja. Apakah mereka telah terkalahkan oleh keegoisannya?? sehingga mereka enggan untuk  memperdulikan mereka yang brada dipersimpangn jalan.
Menjadi pemberontak tak harus mengacak menjadi seorang penjahat, tak harus berbuat cacat. Menjadi seorang ustadpun tak harus selalu mengeluarkan zakat, tak harus selalu berdakwah. Tetapi menjadilah manusia yang membrikan manfaat tanpa harus membrikan hal yang sesat yang kemudian hanya dibtuhkan oleh wktu sesaat, karena memanusiakan manusia lebih indah dari segalanya.
Berproseslah, niatkanlah, kobarkanlah semangatmu, dan ragamu untuk mengisi waktu yang kosong dan ketika terisi lalu pergi dan jangan lupa untuk selalu memberikan asupan gizi utk adik-adikmu nanti.
Salam pergerakn💪💪
Keletihan kejenuhan dan kemarahan akan bercampur ktika diremehkn apalagi untuk dipandang, ditoleh saja itu krna kebetulan saja.
I'am slow🙂 aku berbuat aku melangkah smuanya hanya karna ingin menciptkn sejarah bahwa di negeri ini tak semuanya buta apalagi tertipu daya.

#RakyatJancukers

Penulis : Zaii Arifin

Rabu, 15 Agustus 2018

ZONA NYAMAN (PW)

ZONA NYAMAN



Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi, seperti orang-orang berdasi yang gila materi"

Sepenggal lirik dari @fourtwntymusic yang berjudul zona nyaman. Easy listening dan sarat akan makna.

Setelah didengar dan diresapi, ada benarnya juga. Sebenarnya apa tujuan hidup kita? lahir di dunia, sekolah, bekerja, menikah, berkeluarga, tua, dan kemudian mati? hidup tak sesederhana itu, dan tak sesulit yang kalian pikirkan.

Apakah saudara yakin semua yang anda kerjakan benar-benar sudah keluar dari zona nyaman anda? apakah saudara yakin, disetiap senin pagi diri anda tak dihantui dengan yang namanya apel pagi dan tuntutan laporan disetiap akhir bulan? apakah hidup anda semembosankan itu? yg nantinya menjadi seorang pegawai, dan menikmati masa tua dengan gaji pensiunan yang tidak seberapa?

Saya tidak mendikte kehidupan saudara yg itu-itu saja. Saya juga sama seperti anda, yg terjebak dalam repetisi yg sama setiap harinya.

Masih terlintas tulisan Seno Gumira Ajidarma tentang mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yg hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Saya tidak meminta saudara, untuk resign dari pekerjaan anda yg itu-itu saja, saya hanya meminta anda untuk berfikir atas apa yg anda kerjakan selama ini. untuk apa? untuk sekedar makan dan bekerja?

Pernah dengar kata Buya Hamka? "Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja."

Lantas sudah berapa tahun anda hidup di dunia ini? apakah masih bersembunyi dalam lingkup zona nyamanmu tanpa mencoba peduli dgn sekitar? sebenarnya apa yang anda cari?

Untuk kalian yg telah keluar dari zona nyamanmu, berbangalah bisa berdiri diatas kaki sendiri, setidaknya kau telah menjadi tuan atas dirimu sendiri.

@Kader_Biasa-Biasa_Saja