Minggu, 02 September 2018

SESAT ITU BAIK

(Bukan Khotbah Jumat)

Oleh : Wong Ndeso*


     Tak cuma kotor, sesat pun menjadi sesuatu yang baik. Bahkan kalau mau jujur, sesat itu adalah justifikasi Tuhan pada manusia, "Sesungguhnya kalian semua sesat, kecuali mereka yang Kuberi petunjuk.." Kita tak pernah tahu menahu, apakah kita masih sesat, atau sudah ada dalam naungan petunjuk.
       Dalam keberagamaan, kesesatan hanya disematkan pada mereka yang sudah mulai berjalan, sudah mencoba berpikir, serta berani berijtihad. Dan sesesat-sesatnya orang semacam itu, mereka masih lebih baik dibanding orang yang tak mau berpikir, tak mau berijtihad, karena takut disebut sesat.
      Jika kau mengutarakan pikiranmu, tentang apa pun, lalu dinilai sesat oleh sesamamu, sungguh itu tak apa-apa, tak perlu marah. Kalau perlu katakan padanya, "Kamu kemana aja? Baru tahu ya saya sesat?" Sebab pada akhirnya, kamu dinilai sesat, itu karena pikiranmu tersesat dari pikirannya. Artinya, ini hanya urusan perbedaan penilaian, sudut pandang, bukan karena dia dibisiki Tuhan untuk menghakimimu. Bukan!
     Sesat itu baik. Sesekali, keluarlah dari rumahmu. Pakai kendaraan. Sesatkan dirimu pada sebuah jalan. Aku yakin, kau akan menemukan jalan yang selama ini tak pernah kau injak, kau akan melihat orang atau bangunan yang belum terjamah matamu. Banyak hal baru yang kau dapat dalam ketersesatan. Tapi pada akhirnya, kau akan menemukan jalan yang kau jadikan tujuan.
      Di Indonesia ini, seekor kecoa suka sekali menyesatkan kerbau, hanya karena kerbau itu tak mau jadi kecoa. Ada kambing yang mengejek harimau, hanya karena suara si harimau tak 'mengembik' seperti kambing. Ada tongo yang kerap melecehkan kutu, sebab kutu tak mau diajak diam di batang kelamin seperti dirinya.

*




Tidak ada komentar:

Posting Komentar