Kutipan ini adalah satu dari sekian banyak faidah yang disampaikan oleh Lora Muhammad Ismail al-Kholilie didampingi Lora Muhammad Ismail al-Ascholy pada malam Rabu kemaren (27 Maret 2019) di event penutupan M3 Pondok Pesantren Syaichona Cholil tentang adab Syaichona kepada guru-gurunya.
Syaikh Abdul Adzim atau disebut Bhuju' Agung, sebagaimana disampaikan Ra Ismail, adalah ulama kelahiran Makkah yang membawa thariqat Naqsabandiyah pertama kali ke tanah Madura. Beliau adalah guru dari mahaguru ulama Nusantara, yaitu Syaichona Moh. Cholil bin Abdul Latif. Didawuhkan oleh para ulama, bahwa di Madura ada dua wali besar. Pertama, Syaikhona Kholil, sebagaimana masyhur. Kedua, adalah Syaikh Abdul Adzim, dan yang ini mastur (tertutup dari pengetahuan khalayak umum).
Konon ketika Syaikh Abdul Adzim wafat, sambung Ra Ismail, dimana Syaichona Cholil yang mengadusi, mengkafani dan meletakkan janazah beliau di pemakaman, tubuh Syaikh Abdul Adzim ini dipenuhi oleh lafadz jalalah (Allah). Sampai ketika Syaichona hendak mensholati janazah sang Guru, Syaichona mundur dikarenakan takjub dengan lafadz jalalah yg ada di jasad sang Guru.
Makam Syaikh Abdul Adzim terletak sekitar 200 meter sebelum pemakaman Martajasah dari arah Mlajah samping kanan jalan di sebuah pemakaman umum yang dikelilingi tembok. Di sana tertulis di sebuah banner warna merah "KUBURAN ARAB MAKAM SYAIKH ABD. ADZIM AYAH SYAIKH MUD'HAR MEKKAH"
![]() |
| Makam Syaikh Abd. Adzim |
salah satu bentuk takdzim Syaichona Cholil kepada Sang Guru, beliau pernah dawuh, "Siapa yang ziarah di makamku tapi tidak ziarah ke Syaikh Abdul Adzim, ibarat ziarah ke Mekkah tidak ziarah ke Madinah."
Penulis : Mufti Shohib, S.H (Ketua Umum PC. PMII Bangkalan Periode 2015-2016)

