Senin, 15 Januari 2018

Dinamika Etika dalam Jabatan

Rasulullah yang mulia tak pernah dapat pujian dalam al-Quran karena kualitas ibadahnya kepada Tuhan, padahal kita tahu bagaimana beliau mengisi malam dalam sujud. Rasulullah yang suci tak pernah mendapat pujian dari Tuhan karena kualitas kedermawanannya, padahal kita tahu derita beliau untuk mengenyangkan perut fuqara-masakin begitu agung. Rasulullah Saw. pun tak pernah dapat pujian dari Allahu Ta’ala karena suksesnya beliau membangun Kota Madinah, padahal kita tahu bagaimana keadilan dan kesejahteraan rakyat telah beliau tancapkan dengan gilang-gemilang di hati semua warga Madinah. Tapi, dalam al-Quran kita bisa membaca, “Sungguh engkau Muhammad benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” Tuhan terpukau akan budi-pekerti, dan mengabadikannya dalam Kitab Suci. Inilah kekuatan Muhammad ibn Abdillah. Etika atau akhlak atau moral. Pada pribadi nabi, selain etika, seolah-seolah (sekali lagi “seolah-olah”) tak penting dan kecil peranannya di depan Tuhan. Bahkan Rasulullah Saw. pun diutus ke muka bumi ini tiada lain hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak (li utammimma makarimal akhlak). Siapa pun kita, secara pribadi, tentu tak akan mampu meniru 100% akhlak Rasulullah. Bukan karena apa, tapi karena pengorbanan untuk bisa demikian sungguh berat dan sukar untuk dijalani “manusia-biasa”. Tapi secara sosial, secara profesional, wajib hukumnya bagi kita untuk terus berusaha meniru dan meneladani Muhammad Saw.


Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu bagaimana cara membangun etika. Ya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang pandai membangun insfratruktur kota, bukan yang sukses menciptakan gerakan mengaji bagi warganya, bukan yang sukses menggratiskan pendidikan bagi warganya. Bangsa besar adalah bangsa yang tahu akhlak. Boleh insfratruktur hebat, jalan hotmik licin, rumah sakit megah, mesjid agung mentereng; tapi kalau akhlak warganya rusak, itu semua akan menjadi fasilitas yang dipakai keburukan. Boleh warganya pandai mengaji al-Quran secara fasih, tapi kalau etika warganya bobrok maka kehidupan sosial di sana akan borok-borok. Boleh pendidikan gratis sampai kuliah s-1 kalau mampu, tapi kalau etika para siswanya acak-adut maka akan melanggengkan korupsi makin menjadi. Itu sebabnya, bangsa yang besar selalu memiliki para pemimpin yang kuat secara moral. 

Berat memang, seorang pemimpin harus memberikan teladan, padahal kualitas teladan justru kita baca berada dalam pribadi “nabi”. Presiden Jerman, Christian Wuff mundur dari jabatan hanya karena ketahuan “meminjam” uang rakyat tanpa ijin sebatas untuk cicilan rumahnya. Tanpa menunggu putusan bersalah pengadilan, ia langsung mundur, tanpa paksaan. Perdana Mentri Yunani, George Papandreou yang mengundurkan diri karena “malu” tak becus menyelesaikan krisis yang berkepanjangan. Atau, Mentri Tenaga Kerja Korea Selatan yang mengundurkan diri karena ketahuan bermain golf saat terjadi pemogokan buruh. Atau, Jepang yang punya tradisi harakiri, dalam rentang lima tahun pernah terjadi enam kali berganti kepemimpinan, hanya karena pemimpin mereka malu pada rakyat. Dan masih banyak contoh lain kita bisa deretkan tentang ini. Mereka semua, “berani” mundur dari jabatan karena “jujur” secara etika. Kejujuran tanpa keberanian adalah buta etika, dan etika adalah roh dari kepemimpinan. 


By: Azuell (Wong Ndeso)

Sabtu, 13 Januari 2018

ETOS PEMUDA

Muda, merupakan kata yang membius dan bisa dikapitalisasi. Baik untuk kepentingan ekonomi, politik, pembangunan, dan bahkan pergenitan. Lihat saja, istilah muda selalu disandingkan dengan banyak hal sebagai daya tarik: Es kelapa muda, sate kambing muda, darah muda, pengusaha muda, politisi muda, mamah-mamah muda hingga istri muda dan suami muda, yang lebih dikenal dengan sebutan grandong, eh, brondong. Ada apa dengan kata muda. Pidato Bung Karno yang cetar badai itu masih menggema, "beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia".
Kata muda setidaknya mengandung beberapa hal. Pertama, segar. Segar itu selalu mengandung kebaruan, Tidak layu. Sayur yang segar itu sayur yang baru, begitu juga daging. Tetapi sayur dan daging habis disantap, dan selesai perkara. Lalu bagaimana dengan manusia? Ia terus beranjak tua. Umur tak bisa dilawan. Dengan demikian arti segar bagi manusia adalah seberapa bisa Ia terus menerus membuat sesuatu yang baru bagi dirinya. Inilah yang dalam kekinian disebut inovasi. Tempatnya ada dalam gagasan. Jasad manusia kian menua, tetapi gagasan tidak. Pemuda adalah sosok yang dari hari ke hari dengan gagasan yang baru. Biar tetap segar seperti sayur yang dipetik seketika. Jika anak muda hadir dengan gagasan yang itu-itu saja, Ia bagai sisa makanan tak habis dan yang terus menerus dihangatkan, mungkin masih enak tapi sudah tak lagi renyah. Yang kedua, gairah: Kaum muda tak cukup hanya dengan gagasan. Gagasan tanpa pelaksanaan tak ubah bagai khayalan semata. Perlu semangat juang untuk mengimplementasikannya. Seperti kata Karl Marx, orang- orang bicara tentang dunia, aku ingin mengubah dunia. Untuk itu, yang ketiga: pemuda harus memiliki keberanian, untuk bisa mendobrak kemapanan. Pemuda harusnya bisa diandalkan, sebab masih memiliki tenaga yang besar. Ia makhluk yang energik. Pemuda juga harus imajinatif, berani memiliki cita-cita yang bahkan belum terpikirkan. Peristiwa sumpah pemuda adalah cerita yang relevan mengenai hal tersebut. Di jaman itu, 1928 bukankah cita-cita bertumpah darah, tanah air, dan bahasa satu itu masih merupakan imajinasi? Menurut Sutardji, teks sumpah pemuda adalah puisi yang paling inspiratif, menggerakan berbagai Jong dari banyak daerah untuk manunggal, yang endingnya adalah kemerdekaan, 1945. Wah, wah, wah, berarti muda bukan semata usia, ia adalah etos. Itu sebabnya kita sering mendengar, ada orang tua yang berjiwa muda. Juga sebaliknya, pemuda yang berjiwa tua. Seperti sebuah iklan rokok, menua itu nasib, tetapi dewasa adalah pilihan. Dewasa itulah etos pemuda: segar, bergairah, berani, enerjik, dan imajinatif. Penulis : Azuel_Kaylani Korektor : Mas_Iyan Editor : Iqbal_Juliansyah